Senin, 08 Oktober 2012

figur yang menarik dalam sejarah kepemimpinan di dunia. Ya, Dialah Mursi. Seorang doktor yang bukan honoris causa. Presiden pilihan rakyat Mesir hasil revolusi yang menumbangkan diktator Mubarak. Gaya hidupnya juga merakyat.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memadamkan harapan warga Jakarta untuk perubahan. Tapi ini hanya sebagai pengingat saja. Supaya mereka memimpin dengan amanah. Supaya  menjamin keharmonisan tanpa ada penistaan. Supaya  melaksanakan janji-janjinya.  Supaya  benar-benar bisa meneladani Umar mulai dari meluruskan tauhidnya, memantapkan ibadahnya dan menjadi negarawan sejati yang menjadi khalifah di muka bumi.

Namun, belakangan ini ada figur yang menarik dalam sejarah kepemimpinan di dunia. Ya, Dialah Mursi. Seorang doktor yang bukan honoris causa. Presiden pilihan rakyat Mesir hasil revolusi yang menumbangkan diktator Mubarak. Gaya hidupnya juga merakyat. Dahsyat. Seperti pernah diberitakan oleh Kompas bagaimana kesahajaan beliau dan keluarga meski sudah jadi orang nomor satu di negerinya.

Di awal era kepemimpinannya ia meluncurkan program-program perubahan. Yang unik, salah satu program mursi di tahun pertama ini adalah menubah image Mesir dari negara kotor penuh sampah menjadi negeri yang bersih. “WATHAN NAZHIF” (وطن نظيف) atau “Negeriku Bersih”, itulah program 100 hari pertama yang dipropagandakan oleh Mursi kepada seluruh rakyat Mesir guna mewujudkan visinya tersebut.

Di samping itu, sejumlah prestasi sudah dikerjakan Mursi pada 100 hari kepemimpinannya. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Minggu pertama, Moursi membebaskan wartawati Mesir yang ditahan di Sudan dan menjemputnya dengan pesawat kepresidenan.

2. Pemecatan 70 Jenderal dan Kudeta dengan Cinta pada Marsekal Thantawi dan Anan, Panglima dan wakil Panglima militer.

3. Penghapusan hutang 40.000 petani yang memiliki hutang di bawah 10.000 pounds (30 Juta) yang di masa Mubarak ditangkapi dan dijebloskan ke Penjara.

4. Investasi 270 Milyar dollar yang ditanam di Mesir, hanya dalam 1 bulan Moursi berkuasa.

5. Selama 100 hari ini, Moursi tidak menerima gaji selama menjadi Presiden.

6. Moursi mengembalikan izzah Mesir dengan menguasai gurun Sinai yang di masa Mobarak, 70 % lalulintas udara dan darat dikuasai Israel.

7. Moursi melakukan politik smart and cool dalam bersikap kepada Amerika dan Israel. Hingga PM Israel mengatakan, “Sikap Moursi jauh lebih berbahaya daripada Nuklirnya Iran”. Bahkan Obama menilai, “Hubungan AS dengan Mesir bukan hubungan sahabat bukan pula musuh.”

8. Penjualan khmar dilarang, dan itu tidak mengganggu pariwisata Mesir.

9. Penampilan di pantai dibatasi, hari Jumat diliburkan, dan turis wanita dan pria dipisahkan.

10. Militer Mesir memang the real power, tapi semua di bawah komando Panglima Tertinggi. Pada 2 bulan Moursi berkuasa, 2 kapal selam tercanggih Jermah berhasil didatangkan walau diprotes keras ISrael.

11. Kanal Suez diperlebar dan diperdalam, dan sekarang dikontrol sepenuhnya oleh Mesir setelah direktur Kanal Suez diganti yang sebelumnya didikte Barat.

12. PM Hiysam Qandil setiap Shubuh memeriksa pabrik roti dan turun ke bawah, atas intruksi Presiden Moursi hal yang hanya terjadi di masa Kenabian dan Khulafaur-Rasyidin.

13. Moursi mempelopori pemisahan kepentingan antara kepentingan pribadi+keluarga+partai dengan kepentingan negara. Saat diundang Raja Saudi, keluarga Moursi dengan uang pribadinya menggunakan pesawat Egypt Air tidak menggunakan pesawat kepresidenan.

14. Moursi adalah Presiden pertama dunia yang dengan tegas dan berani menekankan cinta Nabi dan cinta para sahabat di hadapan Khomanei dan pemimpin Syiah di Iran.

15. Jika patokannya adalah mengutip ayat Al-Qur’an dan Hadits, maka Moursi adalah Presiden pertama yang mengutip ayat-ayat AL-Quran dan Hadits di depan Sidang Umum PBB bulan lalu.

16. Jika patokannya adalah masalah protokoler, maka Moursi adalah Presiden yang membiarkan jalanan tetap lalu lalang saat ia melintas dan membiarkan masjid terbuka saat ia shalat.

17. Di Mesir, masjid saat ini dibuka 24 jam untuk kepentingan jamaah setelah di Era Mobarak, masjid-masjid di Mesir ditutup 1 jam setelah shalat wajib.

18. Di tataran regional, Moursi menggalang aliansi dengan Turki. Dalam benak kedua pemimpin ini, kehancuran Israel hanya tinggal waktu dan itu didahului dengan perubahan rezim-rezim antek2 AS baik di Teluk maupun di negara-negara TIMTENG lainnya.

19. Untuk masalah Palestina, tidak ada pemimpin yang nyata-nyata mendukung perjuangan perlawanan selain Moursi. Perbatasan dibuka, hanya dalam 1 minggu Moursi berkuasa dan kemarin dengan Qatar sukses membantuk Zona Ekonomi untuk membangun kembali Gaza.

Masih banyak keberhasilan Mursi lainnya. Tak salah jika rakyat Mesir puas pada kepemimpinannya. Rakyat Mesir makin cinta kepada presidennya yang kata Ismail Haniyya punya kisah mirip Nabi Yusuf AS. ini -sama-sama pernah di penjara baru jadi penguasa istana-. Pusat Riset Opini Publik (Bashira) mengadakan jajak pendapat kedua terhadap kinerja presiden Mursi setelah 80 hari masa jabtannya. Hasilnya, publik yang puas terhadap kinerja Mursi sebanyak 79%. Sisanya yang tidak puas 13%, dan 8% menyatakan ragu-ragu. Dukungan ini sudah melebihi raihan suaranya di Pemilu kemarin.

Dari fakta-fakta ini, sejauh ini Mursi adalah salah satu model pemimpin paling ideal untuk diteladani.(bagaimana kesahajaannya bisa dibaca di http://internasional.kompas.com/read/2012/06/28/08083211/Harihari.Presiden.Terpilih.Muhammad.Mursi )

Ribuan Pelajar Rohis Aksi Damai, Kecewa atas Pemberitaan Metro TV

Ribuan pelajar SLTP dan SLTA yang tergabung dalam kegiatan Rohani Islam (Rohis) seluruh Jakarta, Bekasi, Tangerang dan Depok (Jadetabek), melakukan aksi damai di Bundaran HI, Jakarta sebagai respon atas pemberitaan yang menyudutkan Rohis dan mengarahkan stigma negatif di Metro TV.
"Kami di sini karena dilandasi rasa keprihatinan yang mendalam terhadap pemberitaan di media yang menyudutkan kegiatan rohis di tingkat sekolah, baik SMP dan SMA. Seolah-olah kegiatan kami berbau teroris, padahal itu tidak benar," kata koordinator aksi, Fauzan Hakim, seperti dikutip viva, Ahad (23/9/2012).
Menurutnya, berita di media telah memberikan citra buruk terhadap kegiatan rohis, bahkan ketidakberimbangan dalam penyampaikan berita tersebut telah membentuk opini publik yang mengiring masyarakat untuk mewaspadai kegiatan rohis.
"Kami menyampaikan ajaran Islam dengan benar dan kegiatan rohis ini hanya ekstrakulikuler sekolah jadi tidak ada hubungannya dengan teroris," ujarnya
Dia berharap aksi ini dapat mengubah stigma masyarakat, sehingga kegiatan pelajar yang tergabung dalam ikatan rohis dapat kembali seperti semula.
"Setelah ada berita itu, kami jadi agak susah melakukan perekrutan anggota baru, tapi semoga ke depan kembali normal," ucap dia.
Sementara itu Ketua Ikatan Rohis Se-Jabotabek menyatakan aksi damai ini untuk meluruskan pemberitaan miring tentang Rohis agar para orang tua tak khawatir anaknya masuk Rohis
"Kami aksi damai, kita gak ada keributan. Kami hanya ingin meluruskan saja, nanti takutnya orang tua takut anaknya masuk rohis," ungkapnya.
Ia merasa sedih dan kecewa atas pemuatan berita bahwa Rohis identik dengan teroris. Padahal kegiatan rohis adalah membangun anak muda bangsa agar kreatif serta semakin cinta pada negara dan agama.
"Kami sangat kecewa. (Berita) Itu tidak benar," ujarnya
Ia menambahkan, aktivis Rohis di Jabodetabek akan menemui Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk mengadukan Metro TV, pada hari Senin (24/9/2012).
Aksi damai pelajar yang tergabung dalam Rohis ini melakukan long march dari Sarinah ke Bundaran HI. Acara yang digelar saat car free day dimulai pukul 06.30 WIB dan berakhir pukul 9.00.
Sebagaimana diberitakan, pada 5 September 2012 lalu, Metro TV mengadakan dialog dalam program Metro Hari Ini dengan tema Generasi Baru Teroris dengan narasumber Guru Besar UIN Jakarta Bambang Pranowo, mantan Kepala BIN Hendropriyono dan pengamat terorisme Taufik Andri.
Saat dialog berlangsung, ditayangkan info grafik berisi point-point dan pola rekruitmen teroris muda, yang dinilai menyudutkan Rohis.

Minggu, 30 September 2012

Aksi unjuk rasa menentang peredaran film Innoncence of Muslims di depan Kedubes Amerika Serikat (AS),

Aksi unjuk rasa menentang peredaran film Innoncence of Muslims di depan Kedubes Amerika Serikat (AS), Jl Medan Merdeka Selatan terus berlanjut. Kali ini, giliran ribuan massa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menggelar aksi demo tersebut, Minggu (30/9).

Dalam aksinya, massa mengutuk keras film yang dibuat oleh Sam Bacile, Warga Amerika Serikat (AS), berjudul “Innocence of Muslims” yang berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.

"PKS menuntut agar Pemerintah AS segera bersikap tegas terhadap pelaku penistaan agama. Selain itu, standar ganda pemerintah AS dalam menindak penista agama harus dievaluasi. Yang ketiga PKS mendukung langkah Presiden SBY yang mengusulkan dibuatnya protokol internasional anti penistaan agama," ujar Dedy Supriadi, juru bicara DPP PKS, di sela-sela aksi demonstrasi, Minggu (30/9).

Aksi ini, lanjutnya, diikuti 100 ribu peserta yang terdiri dari kader PKS, simpatisan dan masyarakat umum di sekitar Jakarta. Ditambahkan Dedy, PKS juga ingin menyampaikan pesan secara simpatik dan damai serta tegas. Terutama kepada Pemerintah AS yang dinilai lambat dalam menangani penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh warga negara dan lembaga di AS.

Sejumlah tokoh PKS seperti, Hidayat Nur Wahid, Al Muzammil Yusuf, Habib Nabil Al Musawa, Slamet Nurdin, Triwisaksana dan lain sebagainya juga akan bergabung dalam aksi ini. Tak hanya itu, sejumlah tokoh seperti, Slamet Effendy Yusuf dari Nahdatul Ulama (NU) dan politisi senior PDIP, Sabam Sirait juga akan ikut dalam aksi kali ini.  

Dalam aksi ini, dikatakan Dedy, juga akan diisi pembagian beberapa buku tentang sejarah Nabi Muhammad SAW, kepada perwakilan Kedubes AS di Jakarta, diantaranya buku "Muhammad" karya Karen Amstrong dan "The 100 A Rangking Of The Most Influential Persons in History" karya Michael S Hart secara simbolis.

"PKS ingin AS dan negara-negara barat memahami siapa sosok Nabi Muhammad SAW secara komprehensif," ujar Dedy. Dalam aksi bertajuk "Muhazharah Akbar ini, ribuan massa PKS nampak mulai memadati area depan Kantor Kedubes AS. Di kawasan parkir IRTI Monas juga nampak banyak kelompok massa beratribut PKS. Sementara itu, pihak kepolisian nampak melakukan penjagaan ketat di kawasan kantor Kedubes AS.

Selain dikelilingi pagar berduri, dua unit kendaraan water cannon dan barakuda juga disiagakan tepat di depan kantor Kedubes AS. Akibat aksi ini, arus lalu lintas di Jl Medan Merdeka Selatan mengalami kemacetan panjang.

Sabtu, 29 September 2012

Kejanggalan-kejanggalan dalam Kasus Terorisme

KASUS pengerebekan terduga pelaku terror di Solo dan meledaknya sebuah bom di rumah Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara atau tepatnya di jalan Nusantara, Depok Jabar menghantui pikiran saya, sebagaimana kasus-kasus penggerebekan terduga teror lain yang selalu beraroma sama.
Ada beberapa pertanyaan krusial yang belum bisa terjawab. Berikut beberapa pertanyaannya;
Mengapa Tepat peringatan 11 September?
Entah kebetulan atau tidak, kasus pemberitaan Solo dan bom di Depok, bertepatan dengan peringatan 11 September, di mana Gedung WTC runtuh tahun 2001, yang telah melewati waktu 11 tahun ini. Adakah kasus ini memiliki hubungan? Mungkin, misalnya, sebagai bukti pada Amerika bahwa di Indonesia masih menakutkan karena masih banyaknya ancaman bom?
Anda tidak harus percaya. Tetapi dengarkan pernyataan Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis, (BAIS), Laksamana TNI, Purnawirawan, Mulyo Wibisono yang dikutip itoday, Kamis (06/09/2012). Saat dimintai komentar kasus penggerebekan di Solo yang menewaskan Farhan dan Muksin mengatakan, bila keberadaan teroris di Indonesia sengaja dipelihara institusi tertentu untuk mendapatkan proyek dari Amerika Serikat (AS).
“Teroris itu sengaja dipelihara institusi tertentu yang mempunyai kemampuan intelijen. Institusi ini mendapatkan keuntungan dengan adanya teroris karena mendapatkan kucuran dana dari AS,” kata Mantan Komandan Satgas Intel di BAIS ini), Laksamana TNI, Purnawirawan, Mulyo Wibisono kepada itoday, Kamis (6/9/2012).
Menurut Mulyo, kemunculan teroris disengaja dengan memprovokasi untuk melakukan kegiatan teror. “Dalam intelijen ini penyusupan itu hal yang biasa. Sebetulnya aparat sudah tahu, tetapi dibiarkan saja. Dan pelaku teroris ini akibat provokasi intelijen,” paparnya.
Kata Mulyo, teroris Solo semakin mencurigakan karena aparat kepolisian menyebutkan para pelakunya melakukan pelatihan di Gunung Merbabu. “Polisi harus mengungkap siapa yang melatih para teroris itu, atau jangan-jangan intelijen sendiri. Menggunakan senjata terlebih lagi umur mereka masih muda itu sangat aneh sekali dan mampu membunuh polisi,” jelasnya.
Kecurigaan Mulyo bertambah, korban aparat kepolisian yang tertembak di Solo tidak diotopsi dan adanya pertemuan sebelum terjadinya “teror” Solo,yang dilakukan secara tertutup di markas Kopassus Kartosuro antara Direktur Penindakan BNPT, Brigjen (Pol) Petrus R Golose dengan jajaran Dandim, Komandan Kopassus Grup 2, Kapolres se-Solo Raya dan dan perwakilan dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.
“Saya baca di media, tiga bulan sekitar bulan Juni sebelum ada ‘teror’ Solo, ada pertemuan petinggi BNPT dengan pejabat militer dan polisi seluruh Jawa Tengah di markas Kopassus Kartosuro yang katanya membahas penanggulangan antiteror. Apa gunanya pertemuan itu kok tiba-tiba ada ‘teror’,” kata mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI Purn Mulyo Wibisono kepada itoday, Sabtu (8/9/2012).
Menurut Mulyo, pertemuan sudah pasti mengetahui adanya jaringan “teroris”.
“Pertemuan BNPT di Kartosuro masih wilayah Solo yang katanya sumber “teroris”, masih juga kecolongan. Saya minta pertemuan itu dibongkar saja, apa sih isinya, biar masyarakat tahu dan tidak curiga sepak terjang BNPT dan Densus,” ungkap Mulyo.Mulyo mencurigai kemunculan “teroris” Solo kemungkinan rekayasa pihak BNPT untuk mendapatkan kucuran dana. “Kemunculan ‘teroris’ itu menguntungkan polisi dan BNPT. Mereka mendapatkan keuntungan dari proyek ‘teroris’,” jelasnya.
“Memunculkan ‘teror’ itu biasa dalam operasi intelijen agar orang-orang yang diduga ‘teroris’ itu muncul. Dan dengan munculnya ‘teroris’ akan memberikan keuntungan bagi polisi dan BNPT,” pungkasnya.
Namun bertepatan dengan tuduhan Muyo, tiba-tiba Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Dr Said Aqil Siradj tiba-tiba mendesak agar anggaran dana Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ditingkatkan, sehingga bisa maksimal dalam melaksanakan program kerja.
Kurangnya anggaran yang dikucurkan oleh pemerintah, menurutnya diduga menjadi penyebab maraknya gerakan teroris di tanah air yang pada akhirnya tidak bisa ditanggulangi BNPT.
“Anggarannya BNPT barangkali dan kerjasamanya dengan civil society harus ditingkatkan,” ujar Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj di Jakarta, Rabu (05/09/2012), dikutip Pelitaonline.
Pertanyaannya, mungkinkah dengan tepat peringan 11 September ini drama penggerebekan ini dimaksudkan sebagai laporan kepada Amerika, sebagaimana dugaan Mulyo Wibisono? Atau memang benar sebagai proyek mencari dana?
Selalu Bertepatan dengan Adanya Kasus Besar
Tahun 2009, bom terjadi di hotel JW Mariott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, tepat ketika pihak-pihak yang sedang mempermasalahkan jumlah kecurangan pemilu melalui saksi-saksi yang tergabung dalam timsukses JK-Win dan Mega-Pra (pada tanggal 20 Juli saksi JK-Win menolak menandatangani kesaksiannya, dan tanggal 21 Juli menyusul saksi Mega-Pra juga menolak kesaksiannya),
Sebelumnya tahun 2010, kesuksesan penumpasan Dulmatin oleh Densus 88 juga pas dengan suhu politik sedang panas. Hasil Pansus Century yang dikukuhkan dalam Paripurna DPR, di mana Wapres Boediono dan Menkeu Sri Mulyani pun dinilai sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Akibatnya, isu pemakzulan pun bertiup kencang.
Nah, Kasus penggerebekan di Solo dan bom di Depok, bertepatan dengan kasus Syiah di Sampang.
Selalu menjadi Reality Show di TV
Yang menjadikan selalu hebat berita tuduhan terorisme adalah, beberapa kali penggerebekan dilakukan secara LIVE, layaknya sebah reality show. Selama hampir 18 jam aksi “sok gagah” Densus 88 melakukan penggerebekan di sebuah rumah di Temanggung tanggal 7 Agustus tahun 2009 hingga besoknya lagi 8 Agustus 2009, masyarkat dihibur suara tembakan dar! der! dor! Di TVOne. Perntanyaannya, untuk apa 200 juta lebih warga Indonesia perlu tayangan live sebuah operasi yang boleh dikatakan rahasia? Atau memang aksi-aksi Densus sudah bukan rahasia lagi? Dan untuk kepentingan apa mengajak stasiun TV?
Terlalu naïf jika masyarakat lebih 200 juta percaya pernyataan GM Current Affair TVOne, Solaeman Sakib yang pernah menyatakan siaran langsung penggerebekan sebuah rumah yang diduga tempat persembunyian Noordin M Top di Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah, hanya untuk meningkatkan rating.
Apalagi dalam banyak acara diskusi terorisme yang diselenggarakan TVOne—para reporter yang ada di lapangan atau di studio—sering memberikan asumsi atau mengarahkan pada sebuah opini tertentu.
Lagi pula, masyarakat, tidaklah cukup buta melihat keadaan. Siapapun tahu, siapa Karni Ilyas (Pimred TVOne). Karni Ilyas adalah jurnalis yang juga dikenal anggota Kompolnas. Sebelum di TVOne, ia lebih dulu memulai karir sebagai wartawan Suara Karya (1972), Tempo (1978), Forum (1991-1999) lalu hijrah ke SCTV untuk memimpin Liputan 6 dan terakhir di TVOne yang baru saja diambil alih Keluarga Bakrie.
Karni dikenal telah akrab dengan Gories Mere (GM) semenjak baru setahun lulus Akpol, kala itu pangkatnya masih Letda. Persahabatan Karni dan GM sangat harmonis dan terjalin sampai sekarang.
Seperti diketahui, GM bersama dua perwira Aryanto Sutadi dan Pranowo pernah mendapat keistimewaan memeriksa Omar Al Faruq, langsung dari penjara khusus milik AS di Teluk Guantanamo, Kuba.
Ada hal menarik tentang #KulTweets Mas Ridlja tentang sosok Pimred TVOne berjudul “Karni Ilyas wartawan Senior TVOne” [http://nurudin.jauhari.net/karni-ilyas-wartawan-senior-tvone.jsp]
Dalam situs itu disebutkan, buah persahabatan itu terjadi tatkala 5 November 2002, di mana satuan polisi (dipimpin GM) melakukan sebuah operasi rahasia di Tenggulun, Kecamatan Solokuro, dan berhasil menciduk Amrozi, ikut mengajak wartawan SCTV (dibawah pimpinan Karni Ilyas saat itu), hingga membuat salah paham Kepala Dinas Penerangan Polda Jawa Timur, yang rupanya tidak diberitahu adaya operasi. Sungguh hebat, Polda Jatim saja tidak tahu, Karni bisa tahu.
Saat penangkapan Imam Samudera di Merak, SCTV juga berada di depan. Saat penangkapan Abu Dujana tahun 2007, Karni dan ANTV malah dapat hak siar ekslusif pengakuan Dujana yang direkam, di kala semua media tidak diberi akses.
Yang menarik, setiap acara diskusi terorisme di TVOne, sumber-sumber yang didatangkan selalu monoton. Jika tidak Kepala BNPT Ansyaad Mbai, Mantan Mantan Kepala Badan Intelejen Negara (BIN), Hendro Priyono. Jika ada sumber lain, biasanya selalu orang-orang uang sudah dibina BIN atau BNPT. Jarang dalam masalah terorisme TVOne menghadirkan pakar Syariah atau anak Abubakar Ba’syir. Ba’asyir hanya disudutkan tanpa ada pembelaan.
Ada motivasi lain apa antara Gories, Karni, BNPT dan Hendro yang didukung TVOne? Alangkah naifnya jika alasannya hanya sekedar ratting?
Selalu mengarah Syariah Islam
Beberapa hari pasca meledaknya bom di hotel JW Mariott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, tepat 22 Juli 2009 TVOne menggelar acara special yang membahas akar teroris di Indonesia. Nara sumbernya adalah Brigjen. Surya Dharma Salim (Mantan Ketua Densus 88) yang membahas tuntas akar permasalahan peledakan bom di Indonesia yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Dua hal yang sering diulang-ulang Suryadharma Salim adalah, Syariah dan Dualah Islam.
Menariknya, untuk diskusi dengan mantan Komandan Densus 88 ini, TVOne harus mengulang beberapa kali di lain waktu. Ini sama persis dengan dialog Ansyasd Mbai atau Hendro yang selalu mengarah juga pada gerakan Islam atau Syariat Islam. Seolah-oleh, Syariah atau Daulah Islamiyah menjadikan orang berperilaku teroris.
Dalam sebuah tayangan liputan di lokasi kediaman terduga kasus teror, Yusuf Rizaldi di daerah Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, tiba-tiba seorang reporter sebuah TV swasta secara sengaja men-shoot gambar poster logo HTI berisikan kalimat “Dengan Syariah Indonesia Lebih Bermartabat.” Oleh sang reporter, tulisan tersebut dikaitkan dengan poster jihad. Apa hubungannya poster dengan teror?
Mengapa tidak sekalian wartawan menyebutkan bahwa telah ditemukan al-Quran di rumahnya? Mengerti apa Hendro atau Ansyaad tentang Syariat Islam?
Pertanyaan lain, ada apa pula TVOne dengan Syariat Islam yang selalu dijadikan penyebab (alasan) dalam kasus terorisme? Generalisasi ini, sudah pasti difasilitasi TV tersebut
Selalu Ngruki dan pesantren
Salah satu komentar paling jelas dari Hendro dalam setiap diskusi masalah terror adalah mengarahkan pada PP Al-Mukmin, Ngruki. Seolah-olah ribuan santri alumni pesantren itu pelaku teror. Ada komentar dari pengamat media,asal Surabaya, Sirikit Syah dalam akun Twitter-nya, “Mengapa media mudah memberi label Ngruki sarang teroris, tapi tdk pernah nyebut pulau key (di maluku) sarang preman? Sikonnya mirip!,” ujarnya.
Dalam kasus yang berbeda, pasukan pendukung G-30-S-PKI tahun 1965, dikenal para perwira militer. Mereka bahkan dibagi dalam tiga kelompok tugas, Komando Penculikan dan Penyergapan (dipimpin oleh Letnan Satu Dul Arif), Komando Penguasaan Kota (dipimpin oleh Kapten Suradi), Komando Basis (dipimpin Mayor(udara) Gatot Sukresno).
Pertanyaanya, mengapa kita tidak ajarkan saja secara terbuka di anak-anak atau masyarakat bahwa pelaku-pelakunya teror G 30 S PKI adalah perwira militer dari TNI? Sebagaimana ketika BNPT atau Hendro (yang dikuti media) selalu suka mengaitkan kasus terror bom di Indonesia dengan Abubakar Ba’asyir, Ngruki atau pesantren?
Adakah yang bisa menjawabnya?
Sebagian Anda mungkin ada yang bingung, namun mungkin juga paham akan arah keanehan-keanehan ini.
Semoga kita terhindar dari fitnah zaman dan fitnah Dajjal!